Sabtu, 02 Mei 2009

SAHABAT dan KEKASIH (*cerpen*)

Di gelap malam yang sunyi, angin berhembus sangat kencang . Dua gadis berjalan dengan kakinya . 

Krik.. Krik.. Krik… 
Jangkrik pun bernyanyi diantara rerumputan . 

Dua sahabat berbeda budaya dan bangsa itupun berjalan menyusuri malam . Mereka adalah Ana dan Risa . Sang purnama menatap mereka . Seakan melihat kunang-kunang di malam tanpa bintang . 

Beberapa langkah setelah mereka keluar dari rumah, Ana melihat komet yang butuh beberapa puluh tahun bisa dilihat oleh mata telanjang manusia . Ana pun langsung pinta kepada Sang Pencipta agar ia diberi umur yang sangat panjang agar bisa selamanya berkawan dengan Risa . Selain itu ia juga meminta pangeran pujaan hati agar ia selalu merasa dicinta dan mencinta .

Tak lama setelah Ana memohon kepada Sang Penguasa, Risa memperkenalkan teman lelakinya kepada Ana . Di saat itu, Ana merasakan getaran dari lubuk hatinya yang terdalam, yang sebelumnya tak pernah ia rasakan . Mungkin, ini yang disebut cinta pada pandangan pertama dan juga cinta untuk kali pertama . 

Malam berganti siang .

Semenjak kejadian semalam, Ana tak henti-hentinya teringat sesosok kaum adam yang membuat hatinya merasa tak nyaman . Jatuh cinta . Mungkin itulah gambaran yang tepat untuk Ana . Gadis peranakan sunda-amerika ini menjadi galau dan risau . Karena kaum adam yang membuat hatinya gundah gulana adalah kekasih Risa .

Ana berkali-kali mencoba melupakan dan meyakinkan dirinya untuk tidak jatuh cinta pada kekasih sahabatnya .Tapi tak bisa . Ana terus melawan dan melawan isi hati kecilnya . Tapi, kekuatan cinta memang sangat mahadahsyat . 

Esoknya, ia dan Risa kembali ke rumah Reno, kekasih Risa yang juga sekaligus pangeran hati Ana . Disana, Ana dan Reno banyak berbincang . Mereka saling melempar joke seru . Tak elak, Reno pun jatuh hati pada Ana . 

Semenjak kejadian itu, Reno jadi sering bertanya pada Risa tentang Ana . Pertama, Risa memang tak berprasangka apapun tentang kekasihnya . Lalu setelah Reno sering menanyakan sahabatnya setiap mereka bertemu, kecurigaan pun mulai timbul dari diri Risa .

“Sebenarnya kalau boleh memilih, ku lebih memilih teman daripada pacar “ . Ana pun spontan langsung kaget mendengar sahabatnya berkata seperti itu . Ana bertanya pada sahabatnya, “Sorry, maksudmu berkata seperti tadi apa ? “ . Risa pun menjawab, “ Tak apa, ku hanya tak ingin persahabatan kita ini hancur karena lelaki” . Ana langsung diam dan termenung . 

Malamnya setelah Risa berkata seperti tadi, Ana merenungi perasaan terpendamnya kepada kekasih teman terbaiknya itu . Perlahan demi perlahan Ana mencoba tuk melupakan sang pangeran hati . Ana tak kuasa, karena perasaan yang selama ini terpendam di dalam hatinya, cukup dalam . Keresahan dan kegalauan menghampirinya . Ia sudah tak tahu harus berbuat apa . Kini yang ada dalam pikiranya hanya bayang-bayang Risa . Teman yang sejak kecil berkawan denganya . Teman yang sudah dianggapnya saudara . Dan teman yang selalu ada bersamanya dikala duka maupun suka .

Fajar pun tlah menyongsong . 
Hari yang cerah tuk memulai aktivitas pagi yang tlah menanti .

Ana masih terpaku dan terbayang dengan perkataan teman terbaiknya . Semalaman sudah ia berpikir . Akhirnya ia menemukan jalan yang terbaik untuk masalah ini . Ia memutuskan untuk tinggal bersama ayahnya di Amerika . Memang sangat sulit baginya untuk berpisah jauh dengan sahabatnya, tetapi dengan begini mungkin ia bisa melupakan Reno dan memulai hidup baru bersama keluarganya .

Kebetulan, Risa datang ke rumahnya . Ia pun langsung berkata kepada teman terbaiknya itu tentang keputusannya . Di saat mendengar itu semua, Risa langsung menangis dan tak tahu harus berbuat dan berkata apa . Seketika itu, suasana haru pun berlangsung . Memang sangat disayangkan, persahabatan yang sudah terjalin lama harus terpisah karena lawan jenis yang sangat dicinta .

Risa tak rela jika sahabatnya pergi hanya karena masalah ini . Sangat sangat tak rela . Risa pun mencegahnya . Memang butuh waktu yang panjang untuk bicara dari hati ke hati . Akhirnya, setelah melewatkan waktu berjam-jam untuk meyakinkan Ana, Risa berhasil mencegah kepergian Ana untuk tinggal bersama ayahnya di Amerika . Dan Risa pun juga memutuskan untuk mengalah . Ia merelakan kekasihnya jadi milik Ana . Karena ia tahu, Ana dan kekasihnya saling memendam perasaan cinta yang begitu mendalam .

Betapa mulia hati Risa . Ia merelakan orang yang ia cinta demi teman terbaiknya . Awalnya memang Risa tak rela . Dan Ana pun juga tak mau . Tapi apa pun bisa terjadi . Kini, Ana dan Reno menjadi sepasang kekasih yang tak terpisahkan .

Waktu demi waktu mengalir seperti air, setahun sudah hubungan Reno dengan Ana . Dan Risa masih tetap sendiri menanti pujaan hati . Sebenarnya, dalam lubuk hati yang terdalam, Risa masih sangat cinta terhadap Reno . Dan ia juga masih sangat mengharapkan pujaan hatinya untuk kembali padanya . 

Tujuh bulan terlewati . Reno dan Ana telah merencanakan hubungan mereka ke jenjang yang lebih serius . Keluarga keduanya pun juga telah bertemu . Hanya tinggal waktu yang menentukan kapan dan dimana peristiwa sakral itu dilangsungkan . Risa yang awalnya tak tahu kabar bahagia ini, kemudian menjadi tahu karena telah menerima undangan pernikahan mereka .Hati Risa langsung pecah berkeping-keping dan tak tersisa . 

Risa termenung dan tak tahu apa yang harus diperbuat selanjutnya . Ia merasa sangat sedih, disamping itu ia juga merasa bahagia karena teman terbaiknya akan segera menikah . Hati memang tak bisa ditutupi . Kecemburuan yang seharusnya ia tutupi, kini tak bisa lagi ia bendung . Memang, hati Risa sakit dan terluka . Tapi bagaimana lagi . Inilah suratan takdir dari Sang Kuasa untuk dirinya saat ini . Mungkin, suatu saat nanti dirinya akan menemukan pangeran yang lebih baik dari Reno, sang mantan pujangga hati. 

**the end**

By : Adinda Alieda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar